Menumbuhkan Budaya Berpikir Kritis Santri pada Era Post-Truth melalui Literasi Kritis di Pondok Pesantren Al-Falah Gorontalo

Main Article Content

Argariawan Tamsil
Nuramila Nuramila

Abstract

Arus informasi yang begitu deras di tengah masyarakat kontemporer menuntut hadirnya sikap kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan berita. Informasi tidak lagi datang dari sumber tunggal yang jelas otoritas dan integritasnya, melainkan mengalir dari berbagai arah dengan bentuk, kepentingan, dan niat yang beragam. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat, termasuk kalangan santri sering kali berada pada posisi rentan mudah menerima informasi, cepat menyebarkannya, tetapi lambat memverifikasi dan merefleksikan kebenaran serta dampak sosial dari informasi tersebut. Situasi ini menunjukkan bahwa informasi bukan semata persoalan teknis literasi media, melainkan persoalan epistemologis dan etis. Cara seseorang memandang kebenaran, otoritas pengetahuan, dan tanggung jawab moral sangat menentukan bagaimana ia bersikap terhadap informasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang tidak hanya mengajarkan keterampilan memilah informasi, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis yang berakar pada tradisi keilmuan yang kokoh. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menguatkan kesadaran kritis santri dalam menyikapi informasi melalui pendekatan tradisi keilmuan Islam, khususnya metode kritik hadis (musthalah al-hadits). Konsep-konsep seperti tsiqat, matan, takhrij, dan i‘tibar digunakan sebagai kerangka berpikir kritis untuk membaca dan menilai informasi sehari-hari, termasuk yang beredar di media sosial. Pendekatan ini dipilih karena tradisi kritik hadis merupakan salah satu sistem verifikasi informasi paling ketat dalam sejarah intelektual manusia. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Falah Gorontalo melalui metode dialogis reflektif yang menempatkan santri sebagai subjek berpikir. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif membangun kesadaran epistemologis santri. Mereka memahami bahwa sikap kritis terhadap informasi bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam, melainkan bagian dari tradisi ilmiah yang telah mengakar kuat. Dengan demikian, pesantren memiliki modal konseptual dan moral yang relevan untuk membentuk generasi yang cerdas secara nalar, berhati-hati secara etis, dan bertanggung jawab secara sosial di tengah kompleksitas informasi modern.

Article Details

How to Cite
Tamsil, A., & Nuramila Nuramila. (2025). Menumbuhkan Budaya Berpikir Kritis Santri pada Era Post-Truth melalui Literasi Kritis di Pondok Pesantren Al-Falah Gorontalo. JIPMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(3), 189–199. Retrieved from https://malaqbipublisher.com/index.php/JIPMAS/article/view/958
Section
Articles